Tampilkan postingan dengan label Photografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2015

Canon 5DS R: Unjuk Gigi dengan Resolusi Tertinggi

Canon 5DS R: Unjuk Gigi dengan Resolusi Tertinggi
Seri kamera DSLR Canon 5D pertama kali diumumkan tahun 2005, dimana saat itu merupakan kamera DSLR dengan sensor full frame yang bentuknya relatif ringkas dibandingkan seri 1D, harganya juga cukup terjangkau.


Canon EOS 5D sangat sukses di pasar dan banyak digemari fotografer pro maupun penghobi, penerusnya 5D mk 2 juga populer dan salah satu kamera DSLR pertama yang dapat merekam video HD, dan kemudian 5D mk III terkenal sebagai kamera dengan fitur yang sangat seimbang untuk berbagai jenis fotografi.


Sementara Canon 5DS R adalah seri terbaru yang lebih menekankan ke resolusi tinggi. 5DS ini memiliki resolusi foto 50 MP dan tersedia dalam dua tipe, 5DS dan 5DS R. Perbedaan utamanya adalah hasil foto 5DS R akan sedikit lebih tajam karena memiliki filter yang membatalkan (self canceling) efek filter anti alias di depan sensor gambar. Tapi ada risikonya, yaitu saat memotret tekstur atau pola yang sangat rapat dan teratur seperti bahan kain, dapat memunculkan pola moire. Canon 5DS R pun dijual dengan harga lebih tinggi.

Ukuran file Canon 5DS R cukup besar. Foto jenis RAW kira-kira sebesar 40-45 MB, sedangkan yang JPG ukuran besar/large kira-kira sekitar 20 MB. Ukuran file sangat tergantung pada isi foto.


Pilihan besar dan kualitas foto. Yang paling besar L = 50 MP, M1 = 38 MP, M2 = 22 MP, S1 = 12 MP, S2 = 2.5 MP dan S3 = 0.3 MP.

Dalam review kali ini, saya berkesempatan menguji kamera Canon 5DS R. Dari fisiknya, saya mendapatkan bodi yang terbuat dari magnesium alloy ini terkesan kokoh dan tata letak tombolnya sangat mirip dengan kamera 5D dan 7D.

Kamera ini cukup berat, yaitu 930 gram, tapi desain ergonominya bagus, jadi saat memegang atau mengunakannya, saya tidak merasa terganggu dengan berat kameranya. Bagi fotografer yang pernah menggunakan kamera DSLR Canon profesional akan merasa familiar dan nyaman menggenggamnya.

Baterai yang digunakan sama seperti 5D mk II dan 5D mk III yaitu LP-E6. Mungkin karena dual processor DIGIC 6 dan data file 50.6 MP yang cukup besar, sehingga baterai lebih cepat terkuras. Meski demikian, satu kali full charge masih bisa untuk sekitar 400-500 foto.

Meski fisik kamera sangat baik, sayangnya, layar LCD tidak bisa diputar untuk memudahkan komposisi saat foto/video, juga tidak ada layar touchscreen seperti yang dimiliki kamera Canon pemula 760D atau 70D.

Andalan kamera Canon 5DS R adalah sensor full frame yang memiliki resolusi 50,6 megapixel. Spesifikasi ini menjadikannya kamera DSLR yang memiliki resolusi tertinggi saat ini, melampaui dan menyamai beberapa kamera medium format di pasaran.

Untuk mengoptimalkan kamera ini, dibutuhkan disiplin yang tinggi dalam handling kamera, karena gambar lebih rentan blur karena sedikit getaran saja. Tapi jika digunakan dengan hati-hati dan teknik yang baik, kualitas foto yang dihasilkan sangat detail dan tajam. Maka itu, Canon 5DS R cocok untuk fotografer yang membutuhkan gambar dengan detail dan ketajaman yang sangat tinggi, sering cetak ukuran besar (panjang 60 cm atau lebih).

Kualitas gambar dari Canon 5DS R sangat baik dan tajam saat kondisi ideal, misalnya dengan lighting di studio dan juga dengan lensa yang kualitasnya baik. Dari percobaan yang saya lakukan, ternyata tidak semua lensa bagus untuk 5DS R, lensa seperti 16-35mm f/2.8 L II USM, tidak begitu tajam terutama di bagian ujung/tepi.

Lensa Canon EF 40mm f/2.8 STM yang harganya cukup terjangkau malah cukup baik dan merata ketajamannya, meski di ujung-ujung fotonya agak gelap (vinyet) dan harus dikoreksi secara software. Saat mengunakan lensa Canon EF 100mm f/2.8 L IS USM di studio untuk portrait, kualitas 5D S sangat baik dalam merekam setiap detail foto.


Meskipun resolusi gambar yang sangat tinggi, kualitas gambar di ISO tinggi tidak mengecewakan. Saya cukup puas dengan hasil gambar di ISO 100-800, ISO 1600 dan 3200 masih cukup bagus untuk cetak ukuran kecil.

Meskipun noise yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan Canon 5D mk III, tapi jika ukuran foto dikecilkan dari 50.6MP ke 22 MP, maka kualitas foto tidak jauh berbeda. Dynamic range kamera ini masih kurang lebih sama dengan kamera pendahulunya. Cukup baik, tapi tidak sebaik kamera pesaingnya.

Fotografer landscape harus lebih teliti dalam mengunakan filter GND atau mengunakan teknik HDR untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Jika tidak bagian yang gelap/shadow atau bagian yang terang (highlight) sulit diselamatkan detailnya.


Kinerja kamera dan operasi saya rasakan cepat baik kinerja autofokus, foto berturut-turut dan pengoperasian secara umum. Saat menggunakan layar LCD untuk komposisi foto (live view) autofokus tidak secepat kamera Canon lainnya seperti Canon 70D yang memiliki teknologi dual pixel AF. Tergantung lensa dan cahaya lingkungan, kadang saya harus menunggu 0,5-1 detik untuk kamera mengunci fokus.


Ada beberapa fitur baru dari Canon 5DS R dibandingkan dengan Canon 5D Mk III, yaitu di menu mirror lock-up, ada pilihan delay untuk mengurangi getaran akibat hentakan cermin saat memotret, juga ada pilihan konfigurasi minimum shutter speed di menu Auto ISO.




Sumber: Klik disini

Rabu, 30 September 2015

Teknik fotografi memotret sunrise, sunset dan twilight + setting kamera

Memotret sunrise dan sunset (sebenarnya gak ada bedanya dari sisi fotografi, yang beda cuma sunrise lebih dingin dan sepi daripada sunset, dan yang satu terbit dan yang lainnya tenggelam he he he). Persiapan yang dibutuhkan tentunya adalah memeriksa lokasi di hari sebelumnya, arah matahari dan sebagainya. Peralatan utama yang dibutuhkan adalah kamera, tripod, dan senter.
Setelah tiba dilokasi, hal yang pertama dilakukan tentunya mencari lokasi yang bagus dan aman untuk memotret. Setelah ketemu, baru pasang kamera di tripod. Kalau bisa jangan kebalikannya, kalau keburu pasang tripod dulu biasanya kita sudah malas bergerak mencari posisi yang lebih bagus.

Mode dan setting exposure kamera
Mode kamera yang saya gunakan adalah mode manual (M). Pastikan AUTO ISO dalam kondisi OFF. Rugi dong, kalau ternyata AUTO ISO kamera memilih ISO yang terlampau tinggi karena mendeteksi pencahayaan yang gak begitu terang. Setelah itu saya akan set ISO rendah, sekitar 100/200 (tergantung kamera masing-masing). Dengan ISO rendah, kualitas fotonya paling bagus
Bukaan favorit saya adalah sekitar f/8 sampai f/16.  Dengan bukaan yang relatif kecil, ruang tajam menjadi besar dan pemandangan yang luas bisa tajam semua. Setelah itu, saya tinggal atur shutter speed sampai lightmeter jatuh di titik nol saat saya menekan setengah tombol shutter/jepret. Biasanya shutter speed akan jatuh lebih lambat dari satu detik sesaat sebelum matahari terbit.

Untuk fokusnya, saya mencoba autofokus, tapi kalau langit masih gelap dan kamera gagal mengunci fokus, saya akan set lensa/kamera ke manual fokus, dan mengunakan live view (komposisi dengan layar LCD) dan kemudian mencari fokus dengan memutar barrel fokus di lensa.
Lalu saya akan mengambil test shot, kalau terlalu terang atau gelap, saya akan ganti nilai shutter speednya supaya hasilnya sesuai keinginan saya. Asyiknya kamera digital jaman sekarang memberikan hasil foto langsung di layar LCD jadi tidak ada salahnya mencoba-coba setting yang berbeda-beda.
Idealnya mengunakan self-timer atau exposure delay supaya saat kita menekan tombol shutter, kamera tidak goyang dan hasil foto tajam. Remote dan cable release, dua aksesoris pembantu dapat membantu.
Kalau pemandangannya mencakupi sesuatu yang bergerak, contohnya ada orang seperti nelayan, fotografer, satwa, dll, maka shutter speednya gak boleh terlalu lambat (lebih dari satu detik) karena subjek yang bergerak itu akan tidak tajam. Kalau bisa, kita gunakan shutter speed cukup cepat, contohnya 1/15 detik atau kalau bisa 1/100 detik lebih ideal lagi. Untuk mendapatkan shutter speed cepat tanpa membuat hasil foto gelap, naikkan nilai ISOnya.

Filter atau tidak?
Filter seperti GND (graduated neutral density) biasanya digunakan untuk menyeimbangkan pencahayaan langit dan bumi saat sunset dan sunrise. Saya sendiri sukanya tidak mengunakan filter GND dan membiarkan bagian foreground gelap/siluet. Supaya kesannya lebih alami dan bentuk-bentuknya lebih menonjol. Alasan lain adalah tanah di tepi danau itu kotor, banyak sampah plastik bekas turis :(

Dan alasan lainnya, filter GND repot dipasang dan yang berkualitas tinggi cukup mahal dan mudah rusak.
Alternatif lain jika ingin langit dan buminya seimbang yaitu mengaktifkan fitur yang dinamakan Active D Lighting (Nikon), Auto lighting optimizer (Canon). Ada juga kamera yang kini memiliki fitur Built-in HDR. Saat fitur ini aktif, kamera akan otomatis membuat dua gambar dan menggabungkannya langsung menjadi satu.
Cara lainnya yaitu membuat dua atau lebih dari dua foto yang terang gelapnya berbeda-beda lalu menggabungkannya dengan software pengolah HDR seperti Photomatix atau Photoshop CS. Saat mengunakan teknik HDR, kita wajib mengunakan tripod supaya foto akhir tidak berbayang dua.

Keterangan foto di atas
Saat ini biasanya disebut twilight hour / blue hour, menjelang matahari terbit. Secara komposisi saya mencoba membuat komposisi yang seimbang dengan adanya dua pohon disebelah kiri dan kanan. Siluet fotografer dan perahu diseimbangkan dengan dua perahu di sebelah kanan. Lensa lebar digunakan untuk membuat kesan luas berdimensi.
ISO 200, f/8, 1/2 detik, 16mm, kamera full frame (10mm untuk kamera bersensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9
Saya mengunakan ISO 200 supaya saya bisa mendapatkan shutter speed 1/2 detik, cukup supaya orang-orang ditepi danau tidak blur, dan kualitas foto masih terjaga.

Keterangan foto dibawah
Foto dibawah kondisi sudah sangat gelap karena matahari sudah tenggelam sekitar jam 18.15. Untuk membekukan gerakan nelayan yang sedang menjala ikan, saya mau gak mau harus pakai shutter speed tinggi. Caranya saya naikkan ISO ke 6400 kemudian gunakan bukaan terbesar, yaitu f/1.4. dan dari dua setting tersebut, saya mendapatkan shutter speed 1/125 detik. Lumayan untuk membekukan subjek foto.
Selain nelayan, saya memasukkan elemen foreground yaitu pohon di tepi waduk Jatiluhur. Lampu-lampu kuning dan refleksinya dari seberang waduk yang memberikan efek visual tambahan yang menurut saya cukup menarik.
ISO 6400, f/1.4, 1/125 detik, 85mm (di full frame, kira-kira 60mm di sensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9

—
Sumber: Klik disini