Rabu, 30 September 2015

Teknik fotografi memotret sunrise, sunset dan twilight + setting kamera

Memotret sunrise dan sunset (sebenarnya gak ada bedanya dari sisi fotografi, yang beda cuma sunrise lebih dingin dan sepi daripada sunset, dan yang satu terbit dan yang lainnya tenggelam he he he). Persiapan yang dibutuhkan tentunya adalah memeriksa lokasi di hari sebelumnya, arah matahari dan sebagainya. Peralatan utama yang dibutuhkan adalah kamera, tripod, dan senter.
Setelah tiba dilokasi, hal yang pertama dilakukan tentunya mencari lokasi yang bagus dan aman untuk memotret. Setelah ketemu, baru pasang kamera di tripod. Kalau bisa jangan kebalikannya, kalau keburu pasang tripod dulu biasanya kita sudah malas bergerak mencari posisi yang lebih bagus.

Mode dan setting exposure kamera
Mode kamera yang saya gunakan adalah mode manual (M). Pastikan AUTO ISO dalam kondisi OFF. Rugi dong, kalau ternyata AUTO ISO kamera memilih ISO yang terlampau tinggi karena mendeteksi pencahayaan yang gak begitu terang. Setelah itu saya akan set ISO rendah, sekitar 100/200 (tergantung kamera masing-masing). Dengan ISO rendah, kualitas fotonya paling bagus
Bukaan favorit saya adalah sekitar f/8 sampai f/16.  Dengan bukaan yang relatif kecil, ruang tajam menjadi besar dan pemandangan yang luas bisa tajam semua. Setelah itu, saya tinggal atur shutter speed sampai lightmeter jatuh di titik nol saat saya menekan setengah tombol shutter/jepret. Biasanya shutter speed akan jatuh lebih lambat dari satu detik sesaat sebelum matahari terbit.

Untuk fokusnya, saya mencoba autofokus, tapi kalau langit masih gelap dan kamera gagal mengunci fokus, saya akan set lensa/kamera ke manual fokus, dan mengunakan live view (komposisi dengan layar LCD) dan kemudian mencari fokus dengan memutar barrel fokus di lensa.
Lalu saya akan mengambil test shot, kalau terlalu terang atau gelap, saya akan ganti nilai shutter speednya supaya hasilnya sesuai keinginan saya. Asyiknya kamera digital jaman sekarang memberikan hasil foto langsung di layar LCD jadi tidak ada salahnya mencoba-coba setting yang berbeda-beda.
Idealnya mengunakan self-timer atau exposure delay supaya saat kita menekan tombol shutter, kamera tidak goyang dan hasil foto tajam. Remote dan cable release, dua aksesoris pembantu dapat membantu.
Kalau pemandangannya mencakupi sesuatu yang bergerak, contohnya ada orang seperti nelayan, fotografer, satwa, dll, maka shutter speednya gak boleh terlalu lambat (lebih dari satu detik) karena subjek yang bergerak itu akan tidak tajam. Kalau bisa, kita gunakan shutter speed cukup cepat, contohnya 1/15 detik atau kalau bisa 1/100 detik lebih ideal lagi. Untuk mendapatkan shutter speed cepat tanpa membuat hasil foto gelap, naikkan nilai ISOnya.

Filter atau tidak?
Filter seperti GND (graduated neutral density) biasanya digunakan untuk menyeimbangkan pencahayaan langit dan bumi saat sunset dan sunrise. Saya sendiri sukanya tidak mengunakan filter GND dan membiarkan bagian foreground gelap/siluet. Supaya kesannya lebih alami dan bentuk-bentuknya lebih menonjol. Alasan lain adalah tanah di tepi danau itu kotor, banyak sampah plastik bekas turis :(

Dan alasan lainnya, filter GND repot dipasang dan yang berkualitas tinggi cukup mahal dan mudah rusak.
Alternatif lain jika ingin langit dan buminya seimbang yaitu mengaktifkan fitur yang dinamakan Active D Lighting (Nikon), Auto lighting optimizer (Canon). Ada juga kamera yang kini memiliki fitur Built-in HDR. Saat fitur ini aktif, kamera akan otomatis membuat dua gambar dan menggabungkannya langsung menjadi satu.
Cara lainnya yaitu membuat dua atau lebih dari dua foto yang terang gelapnya berbeda-beda lalu menggabungkannya dengan software pengolah HDR seperti Photomatix atau Photoshop CS. Saat mengunakan teknik HDR, kita wajib mengunakan tripod supaya foto akhir tidak berbayang dua.

Keterangan foto di atas
Saat ini biasanya disebut twilight hour / blue hour, menjelang matahari terbit. Secara komposisi saya mencoba membuat komposisi yang seimbang dengan adanya dua pohon disebelah kiri dan kanan. Siluet fotografer dan perahu diseimbangkan dengan dua perahu di sebelah kanan. Lensa lebar digunakan untuk membuat kesan luas berdimensi.
ISO 200, f/8, 1/2 detik, 16mm, kamera full frame (10mm untuk kamera bersensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9
Saya mengunakan ISO 200 supaya saya bisa mendapatkan shutter speed 1/2 detik, cukup supaya orang-orang ditepi danau tidak blur, dan kualitas foto masih terjaga.

Keterangan foto dibawah
Foto dibawah kondisi sudah sangat gelap karena matahari sudah tenggelam sekitar jam 18.15. Untuk membekukan gerakan nelayan yang sedang menjala ikan, saya mau gak mau harus pakai shutter speed tinggi. Caranya saya naikkan ISO ke 6400 kemudian gunakan bukaan terbesar, yaitu f/1.4. dan dari dua setting tersebut, saya mendapatkan shutter speed 1/125 detik. Lumayan untuk membekukan subjek foto.
Selain nelayan, saya memasukkan elemen foreground yaitu pohon di tepi waduk Jatiluhur. Lampu-lampu kuning dan refleksinya dari seberang waduk yang memberikan efek visual tambahan yang menurut saya cukup menarik.
ISO 6400, f/1.4, 1/125 detik, 85mm (di full frame, kira-kira 60mm di sensor APS-C), krop dengan aspek rasio 16:9


Sumber: Klik disini

Menjelajah Bodi Android Perdana dari BlackBerry


Menjelajah Bodi Android Perdana dari BlackBerryBlackberry pertama yang dibenamkan dengan OS Android.

Diperkenalkan langsung oleh CEO BlackBerry Jhony Chen, BlackBerry Priv ini dilihat hanya sekilas pandang saja. Sampai akhirnya produsen asal Kanada ini memuat secara resmi tampilan utuh dari Priv.

Tapi hanya sebatas gambar. Karena BlackBerry tak memberikan secara detil akan seperti apa nantinya spesifikasi yang dipasangkan dengan ponsel Android perdananya mereka ini.

Dari gambar yang didapatkan, BlackBerry Priv menggunakan dua konsep layar sentuh dan keyboard fisik Qwerty yang bisa disembunyikan dan ditarik lagi alias sliding phone. Ini mengingatkan pada BlackBerry Torch.



Ada beberapa dugaan soal ukuran layarnya. Tapi, agaknya yang paling mendekati adalah BlackBerry Priv akan mengusung 5.4 inci dengan dual curve di samping sisi layarnya. Kualitas resolusinya sudah pasti sangat tinggi, mungkin sekelas QHD.

Pun demikian dengan isi di bagian dalam dari Priv. Santer disebut akan menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon 808 dan RAM 3GB. Belum diketahui juga versi Android berapa yang akan dibenamkan, apakah Android 5.1.1. atau di bawahnya.

Chen pun sempat mendemonstrasikan Priv dengan menunjukan model ponsel anyarnya itu yang berwarna hitam. Terlihat pas di genggaman tangan orang dewasa, serta menyuguhkan nilai tambah dari papan ketik QWERTY yang bisa digeser ke luar sebagai pelengkap pengguna.

"Keyboard ini bisa menjadi mouse Anda, ia punya kemampuan sentuh yang kapasitif. Anda bisa mengoperasikannya saat sedang berselancar di browser atau membaca pesan e-mail," ujar Chen.

Priv akan menggabungkan sistem operasi Android dari Google dan sistem privasi dari BlackBerry sendiri. Di video tersebut, Chen juga menyebutkan, bahwa semua orang sebetulnya menyukai OS BlackBerry 10, hanya saja tidak bisa menampung aplikasi yang banyak.


"Jika saya bisa menyediakan semua aplikasi ke dalam BlackBerry 10, tentu akan menghasilkan kesuksesan yang masif. Sayangnya tidak bisa karena alasan teknis dan finansial," sambungnya.

Masih belum bisa dipastikan kapan BlackBerry akan meluncurkan Priv ke pasaran, namun kabar yang beredar kemungkinan besar pada bulan November yang akan datang.

Sumber: Klik disini

Selasa, 29 September 2015

Mikroskop Sederhana

Setiap hari kita selalu dihadapkan pada berbagai jenis makhluk yang berukuran sangat kecila sehingga sering tidak terperhatikan oleh kita. Untuk mampu mengamati organisme yang sangat kecil kita memerlukan alat khusus untuk dapat memperbesar ukuran benda atau organisme yang kita amati. Leuweunhoek dan Robert Hooke adalah beberapa ahli biologi yang mulai tertarik dengan organisme berukuran kecil atau renik. Dengan peralatan yang sangat sederhana Leuwenhoek mampu menggambarkan berbagai jenis orrganisme renik yang berhasil dia amati. Mikroskop sederhana yang digunakan Leewenhoek bisa anda lihat pada gambar

Gambar 1. Mikroskop Leewenhoek, Mikroskop Robert Hooke dan Mikroskop siswa

Mikroskop adalah alat yang memberikan kemampuan pada kita untuk mengeksplorasi dimensi mikroskopik. Tetesan air, benang sari, kumpulan serat kapas tampak biasa di mata kita. Tetapi  ketika apabila kita melihat benda-benda tadi di bawah mikroskop akan memberikan kesan yang sangat mentakjubkan. Anda akan menyadari bahwa banyak hal yang menakjubkan di sekitar kita. Mikroskop adalah alat yang tepat untuk mengagumi dunia mikroskopis yang tidak pernah kita bayangkan. Dengan menggunakan alat ini kita bisa melakukan perjalanan mikroskopis serta menggumi keindahan ciptaan Allah SWT.
Mungkinkah siswa saya mengamati dunia mikroskopik? Harga mikroskop kan mahal! Sekolah saya tidak memilikinya. Jawabannya mungkin dan sangat mungkin. Ketika Leewenhoek pertama kali mengamati dunia mikroskopik dia belum mendapatkan mikroskop seperti mikroskop siswa saat ini. Dia menggunakan mikroskop yang sangat sederhana. Dalam tulisan ini kita akan mencoba untuk membuat mikroskop sederhana yang mirip dengan mikroskop yang digunakan oleh Leewenhoek. Mikroskop yang akan kita rakit adalah mikroskop gelas sperik (gambar 2).

Intinya alat ini hanya terdiri atas satu lensa, lensa ini cukup kuat memberikan pembesaran kurang lebih 300X pembesaran, hampir sepertiga kekuatan mikroskop siswa yang sering digunakan di sekolah. Teknik pencahayaan sangat sederhana dengan menggunakan cahaya dari lampu dengan menggunakan batere. Mikroskop ini dikategorikan mikroskop sederhana karena hanya menggunakan satu lensa sama seperti mikroskop yang digunakan oleh Leewenhoek.

Membuat Mikroskop Gelas Sperik
Seperti telah disebutkan di atas bahwa mikroskop yang akan bangun adalah mikroskop sederhana yang prinsip dasarnya berasal dari mikroskop yang pernah digunakan oleh Leewenhoek. D.L Stong mencoba melakukan sebuah modifikasi mikroskop Leeweunhoek untuk meningkatkan kemampuannya. Dia mengadaptasi mikroskop Leewenhoek dengan menggunakan gelas slide dan dikenalkan tentang cermin yang bisa digerakkan. Inovasi lainnya adalah metoda penyiapan obyektif.  Leewenhoek mampu menghasilkan lensa berukuran kecil yang digosok secara manual dengan menggunakan tepung abrasive.  Stong mengusulkan sebuah metoda sederhana untuk memperoleh bentuk sperik ini. Dia melelehkan bagian pusat gelas rod pada sebuah Bunsen untuk memperoleh sebuah tetesan gelas berbentuk spherik yang kualitasnya bagus

Gambar 3. Cara pembuatan lensa obyektif dengan pemanasan pipa gelas pada api Bunsen
Di dalam majalah “Science & Vita” Desember 1993, Stong menampilkan sebuah model mikroskop gelas spherik yang menunjukkan beberapa peningkatan. Pertama adanya peningkatan dalam struktur mekanik, yang dibuat lebih mudah. Kedua, adalah system pencahayaan baru. Pada tempat cermin, yang seringkali sulit untuk melakukan pengamatan objek dengan jelas, dimodifikasi dengan menggunakan sebuah lampu dengan pengatur cahaya.
Mikroskop ini bisa memberikan pembesaran sebanyak 200X atau lebih, dengan gambar yang sangat jelas sekali. Kontruksinya memberikan kemungkinan sebuah sensasi yang menyenangkan. Untuk para guru mikroskop ini bisa memberikan pengalaman laboratorium yang sangat menarik, dimana setiap siswa dapat membuat mikroskop buatan sendiri. Lebih jauh, selama percobaan guru dapat memperkenalkan konsep dasar dari optic dan biologi.
Kontruksi Mikroskop


Gambar 4. Konstruksi Mikroskop Gelas Sferik dari Stong.
Ada empat bagian utama yang membentuk mikroskop ini:
1.      Bagian optic
2.      Alat untuk memfokuskan
3.      Struktur pendukung atau meja preparat
4.      System pencahayaan
Untuk pemahaman lebih lanjut dari metoda konstruksinya, bisa dipelajari gambar 5.
Bagian optik dibentuk oleh lensa obyektif. Dalam kasus ini lensa obyektif merupakan sebuah gelas sferikal berdiameter 1,2 – 2.5 mm, yang berfungsi sebagai gelas pembesar. Dengan ukurannya yang sangat kecil, membuat lensa sangat kuat dan jarak harus dijaga sekitar sepersepuluh millimeter dari obyek yang diamati.

PERSIAPAN PEMBUATAN LENSA OBYEKTI
Untuk menghasilkan lensa obyektif kita perlu sebuah batang kaca dengan diameter 3 – 5 mm, sebuah Bunsen dan sepasang pinset. Penggunaan Bunsen yang menggunakan gas akan menghasilkan gelas sferikal yang bermutu baik dibanding kalau kita menggunakan Bunsen spiritus. Kompor gas agak sulit untuk menghasilkan lensa yang diinginkan, dan kemungkinan terkena panas akan lebih besar. Di samping itu diperlukan kesabaran Karena panas yang menyebar (lihat gambar 3).
Untuk mengurangi gelembung dalam lensa glass yang kita buat, bersihkan batang kaca dengan sabun dan air, kemudian hindarkan hindarkan bagian tengah yang akan dipanaskan dari sentuhan. Setelah kita menyiapkan Bunsen yang panasnya sudah diatur, panaskan bagian tengah dari batang kaca sambil batang kacanya diputar perlahan. Ketika bagian gelas sudah mulai meleleh, tarik secara perlahan sehingga dihasilkan benang gelas dengan diameter kurang lebih 0.3 mm. dengan menggunakan pinset, putuskan benang pada bagian tengah tanpa menyentuh bagian tersebut. Pegang salah satu ujung batang kaca yang ada benangnya sambil dipanaskan dan meleleh, bentuk sebuah bola kecil yang berdiameter kurang lebih 1.5-2 mm, kemudian hentikan pemanasan dan biarkan gelas bola mendingin. Selanjutnya patahkan benang yang ada bola dengan meninggalkan benangnya kurang lebih 10mm sebagai bagian yang digunakan untuk menempel pada lubang obyek. Yang menjamin bentuk sferik dari gelas adalah tekanan permukaan dari gelas yang meleleh. Akan tetapi kekuatan gravitasi cenderung untuk mengubang bentuk sferik, sehingga untuk mendapatkan lensa obyektif yang kualitasnya bagus, perlu untuk tetap dalam ukuran yang kecil.
Anda perlu menyiapkan lusinan bola gelas dengan lensa yang kuat, pilih salah satu yang memilik ukuran yang  tepat tanpa memiliki gelembung atau cacat lainnya. Bola gelas ini akan menjadi lensa obyektif dari mikroskop. Bola gelas lainnya yang bagus bisa disimpan sebagai cadangan. Untuk membersihkan lensa ini bisa digunakan tissue yang mengandung alcohol atau air ludah. Kekuatan pembesaran dari lensa ini lebih besar dibanding ukuran yang kecil. Bagaimana kita bisa menentukan kekuatan pembesarannya? Secara sederhana dapat digunakan persamaan berikut:
 I=333/d,
Dimana I adalah kekuatan pembesaran dan d adalah diameter dari bola gelas (dalam mm). sebagai contoh, dengan diameter 1.66 anda akan memperoleh pembesaran sekitar 200X.

MEKANISME MEMFOKUSKAN GAMBAR
Untuk memfokuskan mikroskop anda harus menggerakan lensa obyektif mendekat atau menjauh dari sampel. Untuk melakukan ini lensa menempel pada plat logam yang yang dihubungkan dengan baut pemutar. Salah satu baut pemutar harus memiliki pitch yang lebih besar dan memberikan gerakan yang cukup cepat untuk gerakan lensa baik itu menjauh atau mendekat (pemutar kasar=makrometer). Baut kedua, memiliki pitch yang halus untuk memberikan gerakan yang halus sehingga dapat memfokuskan secara akurat (pemutar halus=micrometer).

                                                                                    https://sites.google.com/site/wikibiosedc/